|
|
Amaliyah Muslim
Bissmillahirrakhmanirahim
Assalammualaikum wr. wb
Pada pertemuan ini saya akan menyampaikan sedikit penjelasan tentang
Islam, dengan didasari oleh dasar ilmu yang Hak, yaitu Al-Quran. Nah
untuk mengawali penjelasan ini, supaya bernilai ibadah kita awali dengan
bissmilakhirakhmanirrakhim.
Kata "Islam" sudah sangat akrab di telinga kita, berawal dari
kata "aslama" yang artinya selamat, atau dalam bahasa
Indonesia asli sejahtera. Beberapa abad yang lalu, ketika orang
mendengar istilah ini, maka akan terbayang keperkasaannya, yaitu
berbicara kekuatan 2/3 bagian dunia, dan berkuasa selama 7 abad.
Berbagai keajaiban dalam berbagai bidang kehidupan mampu ditunjukkan
oleh Islam. Bahkan kalau
kita teliti dengan cermat, berbagai akar dari ilmu pengetahuan dan
teknologi yang ada pada hari ini bersumber dari Islam, terlihat dari
banyaknya istilah islam yang dipakai. Sampai sekarang kita masih
sering mendengar nama besar Aviecena (Ibnu Sina), Averous (Ibnu Rusyid),
dll.
Jika kita membicarakan islam pada hari ini, ternyata kita menemukan dua
hal yang berbeda, bahkan saling berkebalikan satu sama lain. Padahal
secara hakekat, tentu seharusnya sama, mengacu pada artinya yaitu
sejahtera. Jelas terdapat kesalahan, namun apanya yang salah,
inilah yang harus kita temukan dan sekaligus kita cari solusinya.
Untuk menemukan apa yang salah tidaklah gampang, salah satunya kita
harus memahami ilmu dasarnya, yang bisa kita temukan pada petunjuknya,
yaitu Al-Qur'an. Apa peranan Al-Qur'an dalam hal ini, jelas sangat
banyak, dan inilah yang akan kita gunakan sebagai
referensi utama menelusuri permasalahannya sekaligus mencari jawabannya.
Menurut Anda, apa sih sebenarnya fungsi AQ tersebut ?
Dalam QS : 2/185 mengatakan sebagai berikut :
".....................................petunjuk bagi manusia, bukti
dari petunjuk tersebut dan pembeda............................."
Ternyata dari ayat tersebut, tidak disebutkan AQ itu petunjuk bagi orang
Arab misalkan, karena diturunkan di Arab, atau hanya untuk orang Islam,
atau hanya untuk Muhammad, tapi untuk seluruh umat manusia, dalam artian
lain, bila manusia ingin selamat, maka
gunakanlah AQ. Berikutnya disebutkan bahwa AQ adalah bukti dari
petunjuk tadi, maka ayat-ayat yang ada di AQ, pasti akan terbukti suatu
saat nanti. Dan yang terakhir adalah pembeda, antara yang haq dan
yang bathil.
Sudahkah kita gunakan AQ itu sebagai petunjuk dalam kehidupan kita ?
Sudahkah hidup dan kehidupan kita diatur oleh AQ ? Dalam berlalu
lintas, petunjuk tersebut adalah rambu-rambu, bayangkan seandainya
kita tidak mematuhi rambu-rambu tersebut, apa yang akan terjadi. Bisakah
kita selamat sampai tempat tujuan ? Dalam keadaan seperti apakah
ketika kita sampai di tempat tujuan ? Salah satu ayat AQ
mengatakan sebagai berikut :
".......... Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa
yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di
muka bumi dan kerusakan yang besar." (QS : 8/73)
Begitu jelas Allah menggambarkan akibat yang
akan terjadi, dan memang pasti terjadi (sesuai fungsi AQ tadi) bila
tidak berpedoman pada AQ. Kita bisa melihat berbagai fenomena yang
terjadi di sekeliling kita mengenai hal ini.
Sudahkan AQ dijadikan petunjuk oleh manusia sekarang ini ?
Kelebihan yang dimiliki oleh AQ salah satunya adalah keindahan
bahasanya, mana yang lebih dominan ? Tiap malam jumat orang banyak
yang datang ke masjid. Seakan sudah menjadi tradisi surat yang
selalu di baca adalah surat Yaa Siin. Sampai ngantuk-ngantuk
orang membaca surat tersebut, dengan menggunakan tasbih, batu, atau biji
jagung. Mana
yang lebih dominan dalam hal ini, apakah AQ sebagai petunjuk atau segi
bahasanya (syairnya) ? Dari keadaan tersebut jelas bahwa yang
lebih dominan adalah bukan sebagai petunjuk melainkan sisi bahasanya
(syair). Padahal salah satu ayat melarang AQ tersebut dijadika
syair, yaitu
"Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair
itu tidaklah layak baginya. Al Quraan itu tidak lain hanyalah
pelajaran dan kitab yang memberi penerangan" (QS : 36/69).
Ayat tersebut memberikan larangan yang keras dalam bersyair, tapi
kenyataannya? Pahamkah mereka ? Coba anda perhatikan satu
hal yang menarik, yaitu larangan tersebut berada di surat ke 36, yang
ternyata
adalah surat Yaa Siin. Jelas bahwa mereka belum memahaminya.
Dalam bahasan lain, disebutkan jika bukan sebagai petunjuk, maka
diperlakukan layaknya seperti dongeng, dan yang mengatakan hal ini
adalah orang-orang kafir. Dalam QS : 6/25 disebutkan sebagai
berikut :
".........orang-orang kafir itu berkata, Al Quran itu tidak lain
hanyalah dongengan orang-orang dahulu....."
Jadi berarti hanya sekedar dibacakan saja, tidak lebih dari itu, ayat
lain mengatakan :
"Dan mereka berkata : Dongengan-dongengan orang-orang dahulu,
dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya
setiap pagi dan petang..." QS : 25/25
Setelah sholat shubuh, di mesjid-mesjid suka ada tadarus, demikian pula
setelah sholat maghrib, di kedua waktu ini relatif lebih banyak orang
dibandingkan waktu lain. Apa yang menjadi rutinitasnya, membaca
AQ, di waktu pagi (setelah shubuh) dan petang (setelah
maghrib), padahal ini dikatakan oleh orang-orang kafir, maka tanpa
disadari kita telah melakukan apa-apa yang diperolokan oleh orang-orang
kafir tersebut. Itulah beberapa kejadian menarik di sekitar
kita, yang harus kita fikirkan. Hal yang berawal dari
ketidakpahaman
ini akan berakibat sangat fatal bagi perkembangan Islam sendiri. Seperti
yang dikatakan dalam salah satu surat :
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan
hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (QS
17/36).
Tapi kalau kita teliti lebih dalam, hampir 30 % isi Al Qur'an disajikan
dalam bentuk dongeng (cerita), jadi apakah benar apa yang dikatakan oleh
orang-orang kafir tersebut? Apa tujuan Allah menjadikan
cerita-cerita tersebut? Apakah hanya sekedar menambah
perbendaharaan cerita kita atau ada maksud lain? Kita lihat dalam
salah satu firman Allah swt dalam QS : 12/111 :
"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi
orang-orang yang mempunyai akal. ..."
Ternyata kita harus mengambil pelajaran (ibrah) dari cerita tersebut.
Maka kita harus mau untuk belajar AQ dan mengambil pelajaran darinya.
Mudahkah untuk mempelajari AQ tersebut ? Banyak orang mengatakan
bahwa hal tersebut sangatlah susah, tidak bisa
sembarangan. Untuk menafsirkan satu ayat saja dibutuhkan ilmu-ilmu
pendukungnya, misalnya balaghah, nahwu, syorof, mantik, tajwid, bahasa
arab, dsb, yang jumlahnya sekitar 14 ilmu. Padahal secara logika,
kitab balaghah saja terdiri dari banyak bab, yang untuk
memahaminya dibutuhkan waktu bertahun-tahun, mau kapan belajar AQ nya.
Bagaimana dengan penjelasan AQ sendiri. Kita lihat dalam surat
54/17 :
"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran,
maka adakah orang yang mengambil pelajaran?"
Ternyata menurut Allah, mudah untuk mempelajari AQ, bahkan pernyataan
ini diulang-ulang pada ayat ke 21, 32, 39 (diulang sampai empat kali),
menunjukkan ternyata memang mudah untuk mempelajarinya, dan
sangat penting, terungkap dari ayat 54/16 :
"Maka alangkah dahsyatnya adzabku dan ancaman-ancamanku"
demikian deskripsi mengenai adzab dan ancaman Allah, yang sampai diulang
kembali pada ayat 21, dan 30. Dan ketika masuk pada peringatan ke
empat, kalimatnya sudah berbeda yaitu :
"Maka rasakanlah adzabku dan ancaman-ancamanku"
dimana bukan lagi berupa gambaran, melainkan sesuatu yang sudah
ditimpakan ("....rasakan...").
Dari gambaran di atas, seandainya AQ itu memang susah untuk dipelajari,
tentu tidak masuk akal, mungkinkah Allah membuat petunjuk
untuk manusia dimana manusia itu sendiri amatlah susahnya untuk
mempelajari, dan di sisi lainnya, betapa dahsyat adzab dan ancaman
Allah. Jadi sangatlah berlebihan jika memandang atau
mengkondisikan
betapa sulitnya memahami AQ. Dalam firman Allah swt disebutkan :
"Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al-Quran) kepada kamu. Di
antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi
Al-Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun
orang-orang
yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti
ayat-ayat yang mutasyaabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan
untuk mencari-cari tawilnya, padahal tidak ada yang mengetahui tawilnya
melainkan Allah." (QS : 3/7)
Disebutkan di ayat tersebut, bahwa pokok-pokok isi Al-Qur,an terdapat
dalam ayat yang muhkamat (jelas), tapi orang yang cenderung sesat, lebih
banyak mengikuti yang mutasyaabihat (samar). (Dan jangan
heran, ternyata sebenarnya orang-orang yang dimaksud adalah orang yang
paham akan AQ, yang lebih terkenal dengan sebutan ahli kitab).
Jika Allah mengatakan bahwa mempelajari AQ itu mudah, tentu kita harus
menemukan metode dalam mempelajarinya. Di dalam surat Al Israa
dijelaskan sebagai berikut :
"Dan AQ itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu
membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkan
bagian demi bagian"
Ternyata yang menjadi kuncinya adalah kontinuitas (rutin), tidak bisa
langsung sekali jadi untuk memahaminya. Ini penting, karena berkenaan
dengan masalah keimanan, dimana dalam sebuah hadits dikatakan bahwa
keimanan seseorang itu adalah naik turun, naik karena ketakwaannya dan
turun karena maksiat. Untuk kondisi yang hari ini ada,
kecenderungannya adalah turun, untuk menjaganya, diperlukan pemahaman
ayat-ayat Allah secara rutin, seperti di dalam QS 25/32 :
"Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al- Quran itu
tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?" demikianlah supaya
Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya kelompok demi
kelompok.".
Dengan melihat penjelasan tersebut, ternyata belajar AQ itu wajib, dan
harus terprogram. Wajar seandainya kita menyisihkan waktu minimal
dalam satu minggu sebanyak 4 jam (2 x pertemuan), dibandingkan kita
mempelajari hal yang lain di kampus, kita bisa
mendaftarkan sampai 20 sks lebih. Seandainya tidak bisa, jelas
satu hal yang ironis, tapi kebanyakan memang susah untuk yang satu ini.
(tantangannya), sering orang mengatakan, untuk masuk neraka sangat
mahal, tapi herannya banyak orang yang berminat, sebaliknya dengan
surga, murah tapi jarang orang yang mau menempuhnya.
Selain AQ, satu sisi lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah pelaku
utama, yaitu manusia. Kadang timbul dalam benak manusia
pertanyaan-pernyataan yang mendasar, seperti darimanakah mereka berasal,
untuk apa keberadaan mereka di dunia ini, serta akan
kemanakah langkah mereka selanjutnya. Pertanyaan-pertanyaan
seperti ini adalah fitrah untuk ditanyakan oleh setiap mahluk, karena
Allah
pun tidak menjadikan manusia itu hanya sekedar main-main dan tanpa
tujuan. Allah punya rencana yang maha dahsyat untuk membuktikan
keperkasaannya di muka bumi ini, berupa panggung sandiwara raksasa,
yang perannya dipilih diantara kita, peran apa yang akan kita mainkan ?
dsb. Dalam surat 51/56 disebutkan sebagai berikut :
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku"
Ternyata Allah mengutus manusia untuk ibadah, dan tidak untuk yang
lainnya (perhatikan statement ".. tidak....melainkan..", yang
berarti penegasan. Kata ibadah sendiri berasal dari kata abada,
yang artinya
mengabdi, mengabdi kepada Allah, melaksanakan apa yang diperintahkan dan
menjauhi larangannya. Apakah Allah berkehendak? Ya tentu saja.
Dalam surat Al Baqoroh dijelaskan :
".........Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang kholifah di
muka bumi....... " QS : 2/30
Jadi ibadah yang dimaksud disini, bukan hanya ibadah yang formalitas,
melainkan dengan dibekali suatu ideologi untuk menjadikan diri sang
pengabdi tersebut sebagai penguasa (kholifah) di muka bumi ini.
Ini
telah dicontohkan oleh rasulullah,
Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu....... QS : 33/21
Yang dicontoh dari Rasulullah adalah perjuangannya dalam menjadikan
Islam sebagai rahmatan lil alamin (khalifah fil ardi), sesuai dengan
rencana dijadikannya manusia, bukan sifat pribadinya sebagai orang Arab,
misalkan makan dengan tiga jari (roti atau kurma memang mungkin, kalau
sayur ?), menggunakan jubah (biar orang menyebutnya seperti Muhammad,
bukankah Abu Jahal juga memakainya), memelihara jenggot yang lebat
(dengan alasan cinta Allah ikut Rasul, kalau
perempuan, apa nggak bisa mencintai Allah), dan sebagainya.
Banyak perdebatan yang terjadi seputar pola ibadah ini, misalnya
- Berbagai aliran bentrok, hanya disebabkan
masalah doa qunut saat sholat shubuh.
- Permasalahan menggunakan usolli pada niat sholat, bikin cek-cok.
- Di Afghanistan ada yang patah jari telunjuk kanannya,
disebabkan menggerak-gerakan tangannya ketika tahiyat, dan yang lain
menganggap itu bidah.
- Banyak dibicarakan bidah (hal-hal yang dijalankan tanpa prosedur dalam
Al Quraan) dalam berbagai permasalahan yang tak kunjung selesai,
dsb.
Ini adalah hal yang sangat ironis, dimana pihak-pihak lain sudah
melangkah sedemikian majunya, sementara islam masih berputar di sekitar
permasalahan tersebut. Tata cara sholat diperdebatkan, sementara
bidang ekonomi sudah jatuh ke tangan non muslim. Bid'ah
dalam sholat dan haji dipermasalahkan, tanpa menyadari, jika berpolitik
tidak menggunakan AQ, bukankan itu juga bid'ah. Sehingga gejala
umum yang timbul orang-orang islam berjalan di atas rel kebenaran dengan
berpecah belah dalam manghadapi musuh, sedangkan orang-orang kafir
berjalan di atas rel yang bathil bersatu padu untuk menghancurkan islam.
Pola ibadah yang tidak mengikuti rasul digambarkan dalam AQ sbb :
Apabila dikatakan kepada mereka : Marilah mengikuti apa yang diturunkan
Allah dan mengikuti Rasul, mereka menjawab : Cukuplah untuk kami apa
yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya, dan apakah
mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang
mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak pula mendapat petunjuk ?
Ibadah bagi mereka hanya sekedar tradisi secara turun-temurun, dan
tersebar melalu mulut ke mulut. Adakah pola ibadah tersebut dalam
diri kita? Banyak kita temukan pola ibadah seperti ini, misalnya
animisme dan dinamisme, serta peninggalan nenek moyang dahulu.
Namun pada hakekatnya definisi ini tidaklah sesempit itu, dalam
perkembangannya jauh lebih besar daripada itu. Kesemuanya kembali
pada masalah ilmu, jangan ikuti sesuatu tanpa ilmunya. Banyak
orang
sholat, tapi ketika ditanya mengapa sholat, jawabannya karena orang
tuanya sholat, karena muhammad juga dulu sholat, tanpa tahu lebih
lanjut. Disinilah kembali pentingnya untuk mempelajari AQ.
Satu aspek penting lainnya yang akan kita bahas adalah bumi.
Allah mengatakan dalam firmannya :
Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam)
Lauhul Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai oleh hamba-hamba Ku yang
saleh QS : 21/105.
Sudahkan bumi itu dipusakai oleh hamba Allah yang saleh, pada
kenyataannya hari ini yang menguasai adalah orang-orang Yahudi, yang
menyebut dirinya Polisi Dunia, sedangkan umat islam berada dalam
kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan. Ini sangat bertentangan
dengan ayatnya, apakah ayatnya yang salah, tentu saja tidak, kembali
semuanya pada praktek dari ayat-ayat tersebut. Kunci semuanya
sebenarnya telah terdapat lengkap di dalam Al Qur'aan, bukankah itu
merupakan petunjuk bagi kita dalam beribadah dan merealisasikan apa yang
disebut khalifah fil ardi.
Dalam bahasan sebelumnya diterangkan bahwa AQ itu diturunkan bagian demi
bagian, yang berarti pula pelaksanaannya pun akan seperti itu. Kita
lihat bagaimana perjalan AQ itu diturunkan kepada Muhammad saw. Surat
pertama yang diturunkan kepada Muhammad adalah surat Al alaq 1 - 5, ayat
pertama berbunyi "Iqra", artinya bacalah. Bagaimanakah
respon Muhammad ketika menerima ayat tersebut. Beberapa referensi
mengatakan bahwa muhammad mengatakan tidak bisa membaca, sampai
diulang tiga kali, dan setelah itu pulang dengan kondisi yang menggigil
ketakutan. Apa sebenarnya definisi iqra disana? Apakah hanya
membaca tulisan-tulisan saja? Ternyata definisinya membaca
situasi, membaca kondisi diri dan juga lingkungan. Apa yang dijadikan
referensinya. Iqra bismi rab......, bacalah dengan nama pengaturmu
yang telah menciptakanmu.., yang disebut pengatur jelas harus punya
aturan, sehingga yang dijadikan referensi adalah aturan dari sang
pencipta, aturan Allah. Seperti apakah kondisi pada saat itu?
Kondisi pada saat itulah yang kemudian dikenal dengan kondisi jahiliyah,
dimana berbagai kebejatan moral terjadi disana, perampokan, pembunuhan,
perkosaan, perjudian, mabuk, dan sebagainya, tetapi ternyata disana pun
ada ulama, kiai, yang lebih terkenal dengan sebutan ahli kitab, mereka
paham akan adanya Allah, hukum-hukum Islam (yang dibawa oleh rasul-rasul
terdahulu), Muhammad sebelas tahun sebelum diutus jadi nabi telah
mengenal dan melaksanakan sholat, mereka mengenal ibadah haji (ka'bah
terletak di
sana). Satu hal penting disini untuk kita pahami yaitu bahwa
definisi jahiliyah bukanlah identik dengan kebodohan dalam arti
peradaban, kota mekah cukup maju dalam bidang ilmu dan teknologi,
jahiliyah bukanlah berarti kebodohan karena tidak mengenal adanya Allah
atau dasar-dasar keislaman, ini bisa kita pahami, karena di antara
mereka ada yang disebut ahli kitab yang salah satu tugasnya adalah
berdakwah, buktinya ketika muhammad "membaca" diri dan
lingkungannya langsung memahami bahwa diri dan lingkungannya tersebut
berada dalam alam jahiliyah. Yang kemudian jadi pertanyaan,
bagaimana dengan kondisi diri dan lingkungan kita hari ini, marilah
kita analisis.
Pembunuhan
Setiap hari di berbagai stasiun TV, di koran,
di radio disiarkan tentang berita-berita pembunuhan yang demikian
sadisnya, ada yang
dipotong-potong, ditusuk, sehingga kita menjadi terbiasa untuk
menyaksikan kejadian-kejadian tersebut, dan seakan-akan telah menjadi
trend di kalangan penjahat, untuk menghabisi korbannya dengan demikian
sadisnya.
Zina dan Pelacuran
Menurut hukum Islam, orang yang berzina didera 100x (QS : 24/2), tapi
bagaimana kejadiannya di sekeliling kita, zina menjadi budaya, yang
mereka takutkan bukanlah Allah, melainkan cemoohan orang kalau
terjadi kehamilan diluar pernikahan, adakah hukum yang mengatur,
kalaupun ada tidak begitu jelas, pengusutan kasus baru ada jika ada yang
menuntut, kalau ternyata suka sama suka, malah dinikahkan, sampai ada
ungkapan bahwa jodoh di tangan hansip, demikian juga
dengan pacaran dijadikan budaya, padahal dalam QS 17/32 dikatakan
"Dan janganlah kamu mendekati zina,
bukankah pacaran itu mendekati zina. Demikianpun dengan pelacuran,
bukannya dilarang atau ditutup, yang terjadi adalah lokalisasi dan
legalisasi, seakan menjadi
petunjuk seandainya mau berzina disanalah tempatnya, anak kecil saja
pada tahu tempat-tempat tersebut.
Perampokan
Dalam QS 5/38, dikatakan orang yang mencuri dipotong tangannya,
kedengarannya sadis, namun setelah dilakukannya eksekusi tersebut, dia
pasti kapok, termasuk untuk melakukan kejahatan lainnya, dan untuk yang
lainnya akan menjadi contoh sehingga tidak akan melakukan hal yang
serupa. Berbeda dengan sekarang, orang mencuri ayam paling
dipenjara beberapa bulan, setelah bebas, mereka kapok? Kebanyakan
enggak, malah mencuri lagi yang lebih besar dan seterusnya, sehingga
penjara dijadikan tempat untuk memandaikan dia menjadi pencuri-pencuri
kelas kakap, masuk dan keluar dari penjara.
Mabuk
Dalam QS 5/90, dikatakan minum khamar adalah perbuatan syetan maka
tinggalkan, namun kenyataannya tidak demikian, malah dijadikan mode,
bahkan ada omongan, anda layak dapat bintang
Ulama dan Kiai
Demikian banyaknya, tiap tahun dihasilkan sarjana-sarjana islam, mereka
berdakwah, tapi justru kebejatan makin menjadi-jadi dimana-mana, bahkan
yang ironis dakwah itu dijadikan komoditi, sehingga
masing-masing punya tarip berapa ketika akan dipanggil untuk dakwah.
Kalau kita bandingkan ternyata tidak ada bedanya antara jaman jahiliyah
dulu dengan sekarang, sehingga kesimpulan dari hasil iqra kita, sekarang
kita berada pada jaman jahiliyah, dengan embel-embel modern. Jaman
dimana ketika Muhammad melakukan iqra, beliau menggigil ketakutan akan
apa yang menimpa jaman tersebut. Maka kitapun hendaknya
merenungkan hal tersebut, kalau adzab Allah yang menimpa mekah demikian
dahsyatnya, maka ayat tersebutpun tentu akan
juga terjadi pada kondisi kita hari ini. Dari sini minimal kita
pahami benar-benar, karena perjalanan Rasulullah pun tidak terhenti
sampai di sana, pasti bakal ada kelanjutan dari rangkaian cerita hidup
Rasulullah saw.
Nah untuk sementara ini gitu aja dulu yah, seandainya ada komentar dan
sanggahan silahkan email ke vandee@mailcity.com
nah untuk melanjutkan ibadah kita kedepan kita awali dengan
Bissmillakhirakhmanirrakhim, dan untuk menutup penjelasan ini saya
ucapkan Alhamdulillahirabbil alamiin.
Artikel Amaliah Muslim
sebelumnya
Bagi Anda yang ingin
menyumbangkan tulisan dengan topik "Amaliah Muslim"
silahkan kirimkan tulisan Anda berupa attachment e-mail atau berupa
e-mail langsung ke sodikin_ms@my-muslim.net
Ke
depan lagi |