Cheap Web Hosting | Free Web Hosting | Dedicated Server | Windows Hosting | Free Web Space | Web Hosting | FrontPage | Business Web Hosting
cheap web hosting
Search the Web

Buku Tamu Kami

Anda Tamu ke :

Low-cost Websites

 

  The world is not flat why is your PC Screen?

 

 

  INFINITE-LINKS

Amaliyah Muslim

Bissmillahirrakhmanirahim
Assalammualaikum wr. wb

Pada pertemuan ini saya akan menyampaikan sedikit penjelasan tentang Islam, dengan didasari oleh dasar ilmu yang Hak, yaitu Al-Quran. Nah untuk mengawali penjelasan ini, supaya bernilai ibadah kita awali dengan bissmilakhirakhmanirrakhim.

Kata "Islam" sudah sangat akrab di telinga kita, berawal dari kata "aslama" yang artinya selamat, atau dalam bahasa Indonesia asli sejahtera.  Beberapa abad yang lalu, ketika orang mendengar istilah ini, maka akan terbayang keperkasaannya, yaitu berbicara kekuatan 2/3 bagian dunia, dan berkuasa selama 7 abad.  Berbagai keajaiban dalam berbagai bidang kehidupan mampu ditunjukkan oleh Islam.  Bahkan kalau
kita teliti dengan cermat, berbagai akar dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada pada hari ini bersumber dari Islam, terlihat dari banyaknya istilah islam yang dipakai.  Sampai sekarang kita masih
sering mendengar nama besar Aviecena (Ibnu Sina), Averous (Ibnu Rusyid), dll.

Jika kita membicarakan islam pada hari ini, ternyata kita menemukan dua hal yang berbeda, bahkan saling berkebalikan satu sama lain. Padahal secara hakekat, tentu seharusnya sama, mengacu pada artinya yaitu sejahtera.  Jelas terdapat kesalahan, namun apanya yang salah, inilah yang harus kita temukan dan sekaligus kita cari solusinya.

Untuk menemukan apa yang salah tidaklah gampang, salah satunya kita harus memahami ilmu dasarnya, yang bisa kita temukan pada petunjuknya, yaitu Al-Qur'an.  Apa peranan Al-Qur'an dalam hal ini, jelas sangat banyak, dan inilah yang akan kita gunakan sebagai
referensi utama menelusuri permasalahannya sekaligus mencari jawabannya.

Menurut Anda, apa sih sebenarnya fungsi AQ tersebut ?

Dalam QS : 2/185 mengatakan sebagai berikut :

".....................................petunjuk bagi manusia, bukti dari petunjuk tersebut dan pembeda............................."

Ternyata dari ayat tersebut, tidak disebutkan AQ itu petunjuk bagi orang Arab misalkan, karena diturunkan di Arab, atau hanya untuk orang Islam, atau hanya untuk Muhammad, tapi untuk seluruh umat manusia, dalam artian lain, bila manusia ingin selamat, maka
gunakanlah AQ.  Berikutnya disebutkan bahwa AQ adalah bukti dari petunjuk tadi, maka ayat-ayat yang ada di AQ, pasti akan terbukti suatu saat nanti.  Dan yang terakhir adalah pembeda, antara yang haq dan yang bathil.

Sudahkah kita gunakan AQ itu sebagai petunjuk dalam kehidupan kita ? Sudahkah hidup dan kehidupan kita diatur oleh AQ ?  Dalam berlalu lintas, petunjuk tersebut adalah rambu-rambu, bayangkan seandainya
kita tidak mematuhi rambu-rambu tersebut, apa yang akan terjadi. Bisakah kita selamat sampai tempat tujuan ?  Dalam keadaan seperti apakah ketika kita sampai di tempat tujuan ?  Salah satu ayat AQ mengatakan sebagai berikut :
".......... Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar."  (QS : 8/73)  

Begitu jelas Allah menggambarkan akibat yang akan terjadi, dan memang pasti terjadi (sesuai fungsi AQ tadi) bila tidak berpedoman pada AQ.  Kita bisa melihat berbagai fenomena yang terjadi di sekeliling kita mengenai hal ini.

Sudahkan AQ dijadikan petunjuk oleh manusia sekarang ini ?  Kelebihan yang dimiliki oleh AQ salah satunya adalah keindahan bahasanya, mana yang lebih dominan ?  Tiap malam jumat orang banyak yang datang ke masjid.  Seakan sudah menjadi tradisi surat yang selalu di baca adalah surat Yaa Siin.  Sampai  ngantuk-ngantuk orang membaca surat tersebut, dengan menggunakan tasbih, batu, atau biji jagung.  Mana
yang lebih dominan dalam hal ini, apakah AQ sebagai petunjuk atau segi bahasanya (syairnya) ?  Dari keadaan tersebut jelas bahwa yang lebih dominan adalah bukan sebagai petunjuk melainkan sisi bahasanya (syair).  Padahal salah satu ayat melarang AQ tersebut dijadika syair, yaitu

"Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya.  Al Quraan itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan"  (QS : 36/69).

Ayat tersebut memberikan larangan yang keras dalam bersyair, tapi kenyataannya?  Pahamkah mereka ?  Coba anda perhatikan satu hal yang menarik, yaitu larangan tersebut berada di surat ke 36, yang ternyata
adalah surat Yaa Siin.  Jelas bahwa mereka belum memahaminya.

Dalam bahasan lain, disebutkan jika bukan sebagai petunjuk, maka diperlakukan layaknya seperti dongeng, dan yang mengatakan hal ini adalah orang-orang kafir.  Dalam QS : 6/25 disebutkan sebagai
berikut :

".........orang-orang kafir itu berkata, Al Quran itu tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu....."

Jadi berarti hanya sekedar dibacakan saja, tidak lebih dari itu, ayat lain mengatakan : 

"Dan mereka berkata : Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang..."   QS   :  25/25

Setelah sholat shubuh, di mesjid-mesjid suka ada tadarus, demikian pula setelah sholat maghrib, di kedua waktu ini relatif lebih banyak orang dibandingkan waktu lain.  Apa yang menjadi rutinitasnya, membaca AQ, di waktu pagi (setelah shubuh) dan petang (setelah
maghrib), padahal ini dikatakan oleh orang-orang kafir, maka tanpa disadari kita telah melakukan apa-apa yang diperolokan oleh orang-orang kafir tersebut.  Itulah beberapa kejadian  menarik di sekitar kita, yang harus kita fikirkan.  Hal yang berawal dari ketidakpahaman
ini akan berakibat sangat fatal bagi perkembangan Islam sendiri. Seperti yang dikatakan dalam salah satu surat :

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.  Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya."  (QS 17/36).

Tapi kalau kita teliti lebih dalam, hampir 30 % isi Al Qur'an disajikan dalam bentuk dongeng (cerita), jadi apakah benar apa yang dikatakan oleh orang-orang kafir tersebut?  Apa tujuan Allah menjadikan cerita-cerita tersebut?  Apakah hanya sekedar menambah perbendaharaan cerita kita atau ada maksud lain?  Kita lihat dalam salah satu firman Allah swt  dalam QS  :  12/111  :

"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. ..."

Ternyata kita harus mengambil pelajaran (ibrah) dari cerita tersebut.  Maka kita harus mau untuk belajar AQ dan mengambil pelajaran darinya.  Mudahkah untuk mempelajari AQ tersebut ?  Banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut sangatlah susah, tidak bisa
sembarangan.  Untuk menafsirkan satu ayat saja dibutuhkan ilmu-ilmu pendukungnya, misalnya balaghah, nahwu, syorof, mantik, tajwid, bahasa arab, dsb, yang jumlahnya sekitar 14 ilmu.  Padahal secara logika, kitab balaghah saja terdiri dari banyak bab, yang untuk
memahaminya dibutuhkan waktu bertahun-tahun, mau kapan belajar AQ nya.  Bagaimana dengan penjelasan AQ sendiri.  Kita lihat dalam surat
54/17 :

"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?"

Ternyata menurut Allah, mudah untuk mempelajari AQ, bahkan pernyataan ini diulang-ulang pada ayat ke 21, 32, 39 (diulang sampai empat kali), menunjukkan ternyata memang mudah untuk mempelajarinya, dan
sangat penting, terungkap dari ayat 54/16 :

"Maka alangkah dahsyatnya adzabku dan ancaman-ancamanku"

demikian deskripsi mengenai adzab dan ancaman Allah, yang sampai diulang kembali pada ayat 21, dan 30.  Dan ketika masuk pada peringatan ke empat, kalimatnya sudah berbeda yaitu :

"Maka rasakanlah adzabku dan ancaman-ancamanku"

dimana bukan lagi berupa gambaran, melainkan sesuatu yang sudah ditimpakan ("....rasakan...").
Dari gambaran di atas, seandainya AQ itu memang susah untuk dipelajari, tentu tidak masuk akal, mungkinkah Allah membuat petunjuk
untuk manusia dimana manusia itu sendiri amatlah susahnya untuk mempelajari, dan di sisi lainnya, betapa dahsyat adzab dan ancaman Allah.  Jadi sangatlah berlebihan jika memandang atau mengkondisikan
betapa sulitnya memahami AQ.  Dalam firman Allah swt disebutkan :

"Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al-Quran) kepada kamu.  Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al-Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat.  Adapun orang-orang
yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyaabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan
untuk mencari-cari tawilnya, padahal tidak ada yang mengetahui tawilnya melainkan Allah."  (QS : 3/7)

Disebutkan di ayat tersebut, bahwa pokok-pokok isi Al-Qur,an terdapat dalam ayat yang muhkamat (jelas), tapi orang yang cenderung sesat, lebih banyak mengikuti yang mutasyaabihat  (samar).  (Dan jangan heran, ternyata sebenarnya orang-orang yang dimaksud adalah orang yang paham akan AQ, yang lebih terkenal dengan sebutan ahli kitab).

Jika Allah mengatakan bahwa mempelajari AQ itu mudah, tentu kita harus menemukan metode dalam mempelajarinya.  Di dalam surat Al Israa dijelaskan sebagai berikut :

"Dan AQ itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkan
bagian demi bagian"

Ternyata yang menjadi kuncinya adalah kontinuitas (rutin), tidak bisa langsung sekali jadi untuk memahaminya. Ini penting, karena berkenaan dengan masalah keimanan, dimana dalam sebuah hadits dikatakan bahwa keimanan seseorang itu adalah naik turun, naik karena ketakwaannya dan turun karena maksiat.  Untuk kondisi yang hari ini ada,
kecenderungannya adalah turun, untuk menjaganya, diperlukan pemahaman ayat-ayat Allah secara rutin, seperti di dalam QS  25/32  :

"Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al- Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?" demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya kelompok demi
kelompok.".

Dengan melihat penjelasan tersebut, ternyata belajar AQ itu wajib, dan harus terprogram.  Wajar seandainya kita menyisihkan waktu minimal dalam satu minggu sebanyak 4 jam (2 x pertemuan), dibandingkan kita mempelajari hal yang lain di kampus, kita bisa
mendaftarkan sampai 20 sks lebih.  Seandainya tidak bisa, jelas satu hal yang ironis, tapi kebanyakan memang susah untuk yang satu ini. (tantangannya), sering orang mengatakan, untuk masuk neraka sangat mahal, tapi herannya banyak orang yang berminat, sebaliknya dengan surga, murah tapi jarang orang yang mau menempuhnya.


Selain AQ, satu sisi lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah pelaku utama, yaitu manusia.  Kadang timbul dalam benak manusia pertanyaan-pernyataan yang mendasar, seperti darimanakah mereka berasal, untuk apa keberadaan mereka di dunia ini, serta akan
kemanakah langkah mereka selanjutnya.  Pertanyaan-pertanyaan seperti ini adalah fitrah untuk ditanyakan oleh setiap mahluk, karena Allah
pun tidak menjadikan manusia itu hanya sekedar main-main dan tanpa tujuan.  Allah punya rencana yang maha dahsyat untuk membuktikan keperkasaannya di muka bumi ini, berupa panggung sandiwara raksasa,
yang perannya dipilih diantara kita, peran apa yang akan kita mainkan ?  dsb.  Dalam surat 51/56 disebutkan sebagai berikut :

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Ternyata Allah mengutus manusia untuk ibadah, dan tidak untuk yang lainnya (perhatikan statement ".. tidak....melainkan..", yang berarti penegasan.  Kata ibadah sendiri berasal dari kata abada, yang artinya
mengabdi, mengabdi kepada Allah, melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi larangannya.  Apakah Allah berkehendak? Ya tentu saja. Dalam surat Al Baqoroh dijelaskan :

".........Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang kholifah di muka bumi....... " QS  :  2/30

Jadi ibadah yang dimaksud disini, bukan hanya ibadah yang formalitas, melainkan dengan dibekali suatu ideologi untuk menjadikan diri sang pengabdi tersebut sebagai penguasa (kholifah) di muka bumi ini.  Ini
telah dicontohkan oleh rasulullah, 
Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.......  QS  :  33/21

Yang dicontoh dari Rasulullah adalah perjuangannya dalam menjadikan Islam sebagai rahmatan lil alamin (khalifah fil ardi), sesuai dengan rencana dijadikannya manusia, bukan sifat pribadinya sebagai orang Arab, misalkan makan dengan tiga jari (roti atau kurma memang mungkin, kalau sayur ?), menggunakan jubah (biar orang menyebutnya seperti Muhammad, bukankah Abu Jahal juga memakainya),  memelihara jenggot yang lebat (dengan alasan cinta Allah ikut Rasul, kalau
perempuan, apa nggak bisa mencintai Allah), dan sebagainya.

Banyak perdebatan yang terjadi seputar pola ibadah ini, misalnya 

- Berbagai aliran bentrok, hanya disebabkan masalah doa qunut saat sholat shubuh.
- Permasalahan menggunakan usolli pada niat sholat, bikin cek-cok.
- Di Afghanistan ada yang patah jari telunjuk kanannya,
disebabkan menggerak-gerakan tangannya ketika tahiyat, dan yang lain menganggap itu bidah.
- Banyak dibicarakan bidah (hal-hal yang dijalankan tanpa prosedur dalam Al Quraan) dalam berbagai permasalahan yang tak kunjung selesai, dsb.

Ini adalah hal yang sangat ironis, dimana pihak-pihak lain sudah melangkah sedemikian majunya, sementara islam masih berputar di sekitar permasalahan tersebut.  Tata cara sholat diperdebatkan, sementara bidang ekonomi sudah jatuh ke tangan non muslim.  Bid'ah
dalam sholat dan haji dipermasalahkan, tanpa menyadari, jika berpolitik tidak menggunakan AQ, bukankan itu juga bid'ah.  Sehingga gejala umum yang timbul orang-orang islam berjalan di atas rel kebenaran dengan berpecah belah dalam manghadapi musuh, sedangkan orang-orang kafir berjalan di atas rel yang bathil bersatu padu untuk menghancurkan islam.

Pola ibadah yang tidak mengikuti rasul digambarkan dalam AQ sbb :

Apabila dikatakan kepada mereka : Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul, mereka menjawab : Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya,  dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak pula mendapat petunjuk ?

Ibadah bagi mereka hanya sekedar tradisi secara turun-temurun, dan tersebar melalu mulut ke mulut.  Adakah pola ibadah tersebut dalam diri kita?  Banyak kita temukan pola ibadah seperti ini, misalnya animisme dan dinamisme, serta peninggalan nenek moyang dahulu.  Namun pada hakekatnya definisi ini tidaklah sesempit itu, dalam perkembangannya jauh lebih besar daripada itu.  Kesemuanya kembali pada masalah ilmu, jangan ikuti sesuatu tanpa ilmunya.  Banyak orang
sholat, tapi ketika ditanya mengapa sholat, jawabannya karena orang tuanya sholat, karena muhammad juga dulu sholat, tanpa tahu lebih lanjut.  Disinilah kembali pentingnya untuk mempelajari AQ.

Satu aspek penting lainnya yang akan  kita bahas adalah bumi.  Allah mengatakan dalam firmannya :

Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauhul Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai oleh hamba-hamba Ku yang saleh   QS   :  21/105.

Sudahkan bumi itu dipusakai oleh hamba Allah yang saleh, pada kenyataannya hari ini yang menguasai adalah orang-orang Yahudi, yang menyebut dirinya Polisi Dunia, sedangkan umat islam berada dalam
kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan.  Ini sangat bertentangan dengan ayatnya, apakah ayatnya yang salah, tentu saja tidak, kembali semuanya pada praktek dari ayat-ayat tersebut.  Kunci semuanya sebenarnya telah terdapat lengkap di dalam Al Qur'aan, bukankah itu merupakan petunjuk bagi kita dalam beribadah dan merealisasikan apa yang disebut khalifah fil ardi.

Dalam bahasan sebelumnya diterangkan bahwa AQ itu diturunkan bagian demi bagian, yang berarti pula pelaksanaannya pun akan seperti itu. Kita lihat bagaimana perjalan AQ itu diturunkan kepada Muhammad saw. Surat pertama yang diturunkan kepada Muhammad adalah surat Al alaq 1 - 5, ayat pertama berbunyi "Iqra", artinya bacalah.  Bagaimanakah respon Muhammad ketika menerima ayat tersebut.  Beberapa referensi mengatakan bahwa muhammad mengatakan tidak bisa membaca, sampai
diulang tiga kali, dan setelah itu pulang dengan kondisi yang menggigil ketakutan.  Apa sebenarnya definisi iqra disana? Apakah hanya membaca tulisan-tulisan saja?  Ternyata definisinya membaca situasi, membaca kondisi diri dan juga lingkungan. Apa yang dijadikan referensinya.  Iqra bismi rab......, bacalah dengan nama pengaturmu yang telah menciptakanmu.., yang disebut pengatur jelas harus punya aturan, sehingga yang dijadikan referensi adalah aturan dari sang pencipta, aturan Allah.  Seperti apakah kondisi pada saat itu?
Kondisi pada saat itulah yang kemudian dikenal dengan kondisi jahiliyah, dimana berbagai kebejatan moral terjadi disana, perampokan, pembunuhan, perkosaan, perjudian, mabuk, dan sebagainya, tetapi ternyata disana pun ada ulama, kiai, yang lebih terkenal dengan sebutan ahli kitab, mereka paham akan adanya Allah, hukum-hukum Islam (yang dibawa oleh rasul-rasul terdahulu), Muhammad sebelas tahun sebelum diutus jadi nabi telah mengenal dan melaksanakan sholat, mereka mengenal ibadah haji (ka'bah terletak di
sana).  Satu hal penting disini untuk kita pahami yaitu bahwa definisi jahiliyah bukanlah identik dengan kebodohan dalam arti peradaban, kota mekah cukup maju dalam bidang ilmu dan teknologi, jahiliyah bukanlah berarti kebodohan karena tidak mengenal adanya Allah atau dasar-dasar keislaman, ini bisa kita pahami, karena di antara mereka ada yang disebut ahli kitab yang salah satu tugasnya adalah berdakwah, buktinya ketika muhammad "membaca" diri dan
lingkungannya langsung memahami bahwa diri dan lingkungannya tersebut berada dalam alam jahiliyah.  Yang kemudian jadi pertanyaan, bagaimana dengan kondisi diri dan lingkungan kita hari ini, marilah
kita analisis.

Pembunuhan 

Setiap hari di berbagai stasiun TV, di koran, di radio disiarkan tentang berita-berita pembunuhan yang demikian sadisnya, ada yang
dipotong-potong, ditusuk, sehingga kita menjadi terbiasa untuk menyaksikan kejadian-kejadian tersebut, dan seakan-akan telah menjadi trend di kalangan penjahat, untuk menghabisi korbannya dengan demikian sadisnya.

Zina dan Pelacuran
Menurut hukum Islam, orang yang berzina didera 100x (QS : 24/2), tapi bagaimana kejadiannya di sekeliling kita, zina menjadi budaya, yang mereka takutkan bukanlah Allah, melainkan cemoohan orang kalau
terjadi kehamilan diluar pernikahan, adakah hukum yang mengatur, kalaupun ada tidak begitu jelas, pengusutan kasus baru ada jika ada yang menuntut, kalau ternyata suka sama suka, malah dinikahkan, sampai ada ungkapan bahwa jodoh di tangan hansip, demikian juga
dengan pacaran dijadikan budaya, padahal dalam QS 17/32 dikatakan 

"Dan janganlah kamu mendekati zina,  bukankah pacaran itu mendekati zina.  Demikianpun dengan pelacuran, bukannya dilarang atau ditutup, yang terjadi adalah lokalisasi dan legalisasi, seakan menjadi
petunjuk seandainya mau berzina disanalah tempatnya, anak kecil saja pada tahu tempat-tempat tersebut.

Perampokan


Dalam QS 5/38, dikatakan orang yang mencuri dipotong tangannya, kedengarannya sadis, namun setelah dilakukannya eksekusi tersebut, dia pasti kapok, termasuk untuk melakukan kejahatan lainnya, dan untuk yang lainnya akan menjadi contoh sehingga tidak akan melakukan hal yang serupa.  Berbeda dengan sekarang, orang mencuri ayam paling dipenjara beberapa bulan, setelah bebas, mereka kapok? Kebanyakan
enggak, malah mencuri lagi yang lebih besar dan seterusnya, sehingga penjara dijadikan tempat untuk memandaikan dia menjadi pencuri-pencuri kelas kakap, masuk dan keluar dari penjara.

Mabuk


Dalam QS 5/90, dikatakan minum khamar adalah perbuatan syetan maka tinggalkan, namun kenyataannya tidak demikian, malah dijadikan mode, bahkan ada omongan, anda layak dapat bintang

Ulama dan Kiai


Demikian banyaknya, tiap tahun dihasilkan sarjana-sarjana islam, mereka berdakwah, tapi justru kebejatan makin menjadi-jadi dimana-mana, bahkan yang ironis dakwah itu dijadikan komoditi, sehingga
masing-masing punya tarip berapa ketika akan dipanggil untuk dakwah.

Kalau kita bandingkan ternyata tidak ada bedanya antara jaman jahiliyah dulu dengan sekarang, sehingga kesimpulan dari hasil iqra kita, sekarang kita berada pada jaman jahiliyah, dengan embel-embel modern.  Jaman dimana ketika Muhammad melakukan iqra, beliau menggigil ketakutan akan apa yang menimpa jaman tersebut.  Maka kitapun hendaknya merenungkan hal tersebut, kalau adzab Allah yang menimpa mekah demikian dahsyatnya, maka ayat tersebutpun tentu akan
juga terjadi pada kondisi kita hari ini.  Dari sini minimal kita pahami benar-benar, karena perjalanan Rasulullah pun tidak terhenti sampai di sana, pasti bakal ada kelanjutan dari rangkaian cerita hidup Rasulullah saw.

Nah untuk sementara ini gitu aja dulu yah, seandainya ada komentar dan sanggahan silahkan email ke vandee@mailcity.com nah untuk melanjutkan ibadah kita kedepan kita awali dengan Bissmillakhirakhmanirrakhim, dan untuk menutup penjelasan ini saya ucapkan Alhamdulillahirabbil alamiin.


Artikel Amaliah Muslim sebelumnya


Bagi Anda yang ingin menyumbangkan tulisan dengan topik "Amaliah Muslim" silahkan kirimkan tulisan Anda berupa attachment e-mail atau berupa e-mail langsung ke sodikin_ms@my-muslim.net

Ke depan lagi

 

Demi waktu !

Sesungguhnya manusia pasti berada dalam kerugian

Kecuali orang-orang yang beriman (dan istiqomah dengan imannya dan mau membuktikannya dengan) beramal sholeh

serta mau saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran (QS. Al-Ashr : 1 ~ 3)

[Read my Guestbook ] [ E-mail : sodikin_ms@my-muslim.net ]
[Guestbook by TheGuestBook.com][
FastCounter by LinkExchange

 

             Last update 29/05/2001           

 copyright © 2001 Shodikin MS & Ening W

  design by : shodikin ms pbg.