Ibnu
Taimiyah
Ulama
brilian, hafal al-Qur'an sebelum baliq. Keras menentang kemaksiatan
dan syirik. Berkali-kali masuk penjara, karena menentang penguasa.
Kedai
arak, guci tuak, meja judi, hancur berkeping-keping. Para pelaku
maksiat lari lintang pukang. "Hancurkan semua! Usir orang-orang
yang ada di situ!" teriak pimpinan rombongan orang yang tampak
beringas itu.
Jangan
salah paham, itu bukan pasukan Front Pembela Islam (FPI) yang tengah
melakukan razia tempat maksiat di Jakarta. Tetapi anak buah Ibnu
Taimiyah (IT) yang sedang menghancurkan tempat-tempat maksiat,
sekitar 8 abad silam. IT dan murid-muridnya memang merasa geram
melihat kemaksiatan merajalela. Yang membuat heran, penguasa tak
berbuat apa-apa. Justru sengaja mendiamkannya sebab mendapat setoran
pajak berlimpah dari meja judi, kedai minuman, dan tempat pelacuran.
Apa boleh buat, IT merasa harus mengambil inisiatif sendiri.
Bid'ah
dan syirik pun dimusnahkan. Pada bulan Rajab 704 H, IT pernah
mengerahkan puluhan pembelah batu guna menghancurkan batu besar di
sungai Quluth, pinggiran kota Damsyiq sekarang Damaskus, Syria. Batu
besar itu memang menjadi sumber kemusyrikan karena dikeramatkan dan
sering dimintai berkah warga setempat.
Tradisi
syirik orang-orang Damsyiq waktu itu tergolong parah. Seperti
diceritakan Abul Hasan Ali An-Nadawi dalam Rijalul Fikri wad-Da'wah
Fil Islam, orang Damsyiq terbiasa shalat menghadap kuburan dan
membelakangi Ka'bah. "Kubur adalah kiblat yang khusus,
sedangkan Ka'bah adalah kiblat yang umum," demikian pikiran
mereka. Orang-orang Islam lebih khusyuk berdoa di masyahid (bangunan
di atas kuburan) daripada di masjid. Mereka juga beranggapan bahwa
berziarah ke makam imam dan syaikh mereka lebih utama daripada
menunaikan haji ke Baitullah.
Aliran
sempalan juga diserangnya. Dalam kitab Minhajus Sunnah, IT
terang-terangan menentang aliran Syiah. Kitab ini lahir sebagai
respons atas terbitnya kitab Minhajul Karamah karangan ulama
besar Syiah, Ibnu Al-Muthahhar Al-Hulli. Keluasan ilmu dan wawasan
IT mampu menjungkirkan kemahiran Ibnu Al-Muthahhar dalam
membolak-balik nash al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw. Barangsiapa
ingin mengetahui kedalaman ilmu, wawasan yang luas, ide-idenya yang
baru, hafalan yang kuat, kematangan, kerajinan, kemahiran, dan
kecemerlangan akal IT, bacalah Minhajus Sunnah. Begitu kata
Abul Hasan Ali An-Nadawi.
IT
tak cuma berani melawan bid'ah dan aliran sempalan. Perang pun oke.
Sewaktu tentara Tatar menyerbu Syam (Syiria) pada 3 Ramadhan 702,
dia berada di garda terdepan. Para pemuda dikumpulkan di
masjid-masjid, dibakar semangatnya. Qunut Nazilah dibaca tiap usai
shalat. IT juga mengeluarkan fatwa bahwa melawan kaum penjajah
adalah suatu kewajiban.
Hasilnya
luar biasa. Penduduk Syam yang sebelumnya ketakutan dan lari
mengungsi ke Mesir, tiba-tiba berkobar-kobar semangat perlawanannya.
Dengan dibantu pasukan Mesir dan Turki, warga Syam akhirnya berhasil
memukul mundur tentara Tatar. "Manakala menunggang kuda
mengelilingi musuh, dia tampil bagaikan orang yang paling berani.
Dia berdiri tegar bagai pembalap kuda, membabat habis musuh seolah
tidak takut mati," begitu kata Al-Hafizh Sirajuddin dalam Al-Kawaqib
Ad-Duhriyyah.
Jenius
Taqiyyuddin bin Taimiyah Al-Harani Ad-Dimasyqi lahir di Hiran (dekat
Turki) pada hari Senin, 10 Rabiul Awwal 661 H. Al-Hafizh Adz-Dzahabi
dalam An-Nubala' menulis bahwa IT lahir 651. Sewaktu kecil
dia dikenal dengan nama Ahmad Taqiyuddin. Sebutan lain yang juga
kerap hinggap di telinganya adalah Abil Abbas. Namun nama Ibnu
Taimiyahlah yang akhirnya terkenal di kalangan banyak orang, hingga
kini.
Sejak
kecil IT sudah akrab dengan ilmu diniyah. Ayahnya, Syaikh
Syihabuddin Abdul Halim bin Taimiyah, adalah seorang ulama ahli
hadits dan ahli fiqh Hambali yang cukup ternama pada zamannya.
Kakeknya juga ulama ternama, Abul Barakat Majduddin. Toh demikian,
para ahli sejarah sepakat menganggap IT lebih unggul dibanding kakek
dan ayahnya.
Kecemerlangan
otaknya sudah kentara pada usia belia. Al Qur'an sudah mampu
dihafalkannya sewaktu usianya belum baligh. Sewaktu kecil IT tak
suka bermain-main seperti anak-anak sebayanya, tetapi lebih asyik
bergelut dengan buku. Dalam usianya yang rnasih sangat muda itu, dia
sudah hobi menghadiri majlis pengajaran dan ceramah di samping
ayahnya dan para ulama pada masa itu. Bahkan dia menyertai mereka
dalam diskusi ilmiah yang menyebabkan kejeniusannya dan
kecemerlangan hatinya makin nampak.
Dikisahkan
oleh Muhammad Abi Zahrah, seorang syaikh di Aleppo dibuat
terperangah oleh kecerdasan IT kecil. Syaikh itu sengaja mencegatnya
yang baru saja pulang sekolah. "Hai bocah, hapuslah papan tulis
yang kau bawa itu dan aku akan mendiktemu lalu kamu haru
smenulisnya," ujar syaikh kepada IT yang terheran-heran dicegat
seorang ulama.
Syaikh
segera mendiktekan 13 hadits, dan bocah itu disuruh menulisnya. Luar
biasa! Hadits-hadits itu mampu ditulis dan dibaca dengan cepat,
seolah IT tak perlu berpikir. "Aku telah mendengarnya
sebagaimana engkau mendengarnya. Jika anak ini hidup lama, tentulah
dia akan menjadi orang besar. Sungguh, anak ini tak
tertandingi," syaikh itu mengatakan kekagumannya.
Semakin
bertambah usia semakin luas wawasan yang dimilikinya. Semakin lama
belajar semakin haus rasanya. Untuk menghilangkan dahaganya akan
ilmu, konon IT sampai berguru pada 200-an ulama ternama. "Dan
hampir setiap apa yang dia dengar, pasti dia hafal," ujar
Ilmuddin Al-Barzali, teman sekelasnya.
Pada
usia 22 tahun, IT sudah mengajar di perguruan Darul Hadits
Al-Syukriyyah, sekolah ternama yang hanya mau menerima tenaga
pengajar pilihan. Meski masih tergolong muda, kecerdasannya mampu
membuat guru-guru besar sekolah itu geleng-geleng kepala.
"Sungguh, siapapun mengakui kebrilianan guru saya yang usianya
masih sangat muda itu," ujar Ibnu Katsir, salah seorang siswa
yang akhirnya juga menjadi ulama ternama.
Keluasan
ilmu IT juga terlihat dalam penguasaannya terhadap fiqh, hadits,
ushul, fara'id, tafsir, mantiq, kaligrafi, hisab, bahkan olahraga.
Penguasaan nahwu sharafnya juga luar biasa. Namun ilmu tafsir adalah
displin ilmu yang paling digandrunginya. Bila sudah berkutat dengan
tafsir, IT tampak asyik sekali. Lebih dari seratus kitab Tafsir
al-Quran dipelajarinya. Tak heran bila ketika mengkaji satu ayat
saja, dia akan menelaah puluhan tafsir.
Ketika
mengkaji tafsir itu, IT tidak sekadar mengandalkan kecerdasan akal,
tapi juga kecerdasan spiritual. Dia akan selalu memohon kepada Allah
swt agar diberi kefahaman, pergi ke masjid dan bersujud. Wajar bila
para pemikir yang hanya mengandalkan kemampuan akal tanpa spiritual
senantiasa dikecamnya.
Para
filosof Yunani juga menjadi sasaran tembaknya. Termasuk, pemikir
Islam yang bertaklid buta kepada filsafat Yunani seperti Ibnu Sina.
Sebab, menurut IT, filsafat Yunani tak mampu menemukan rahasia
ketuhanan. "Mereka adalah sebodoh-bodoh dan sejauh-jauh manusia
dalam mengetahui hal-hal yang benar. Komentar Aristoteles, guru
mereka, masih terlalu sedikit dan banyak kesalahan. Para filosof
telah tertipu dalam mengetahui dan mengenal Allah swt."
Disingkirkan
Penguasa
Sikap blak-blakan IT dalam mempertahankan keyakinan banyak
mengundang decak kagum. Pun melahirkan kedengkian di beberapa pihak.
Sewaktu IT menolak keras faham Wihdatul Wujud yang diusung Syaikh
Muhyiddin Ibnu Arabi, banyak yang marah besar. Pada 5 Ramadhan 705,
datanglah surat panggilan dari penguasa Mesir dan Syam, Sultan
An-Nashir Muhammad bin Qulaun. Rupanya ini hanyalah jebakan para
pengikut Ibnu Arabi. Buktinya, IT ditangkap dan dimasukkan ke dalam
tahanan selepas ceramah di sebuah majelis.
Beberapa
bulan kemudian ada tanda-tanda hendak dibebaskan. Syaratnya, IT
harus mencabut sikap kontranya terhadap faham aqidah penguasa Mesir.
Namun tawaran itu ditolak mentah-mentah. "Ya Tuhanku, penjara
lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka," begitu
jawaban IT, mengutip QS Yusuf: 33.
Memang
benar, meski dipenjara, IT tetap beraktivitas sebagaimana biasa.
Ketegaran pribadinya mendorong terus beramar ma'ruf nahi munkar.
Sewaktu para narapidana sibuk bermain catur, undian, judi, dan
lain-lain sehingga melalaikan shalat, IT tak segan-segan menegurnya.
Dia perintahkan secara tegas agar mereka menjaga shalat, senantiasa
bertasbih, istighfar, dan berdoa. Berbagai amalan ibadah diajarkan,
sehingga para penghuni penjara itu larut dalam kegiatan agama.
Bahkan banyak narapidana yang sebenarnya sudah bebas tapi memilih
tetap tinggal bersama IT. Akhirnya pada 23 Rabi'ul Awwal 707 dia
bebas berkat pertolongan seorang pejabat Arab.
Begitu
bebas, IT bukannya kembali ke Damsyiq tetapi memilih tinggal di
Mesir yang banyak dihuni musuh-musuhnya. Dia tetap aktif mengajar,
memberikan nasihat, ceramah, dan membentuk majelis-majelis. Tak lama
kemudian beberapa sekolah di Kairo rutin memberi kesempatan ceramah,
di antaranya Madrasah Ash-Shalihiyyah. Dari situlah kalangan ulama
Mesir mulai terbuka matanya, bahwa ternyata IT tidak sesat seperti
yang diduga.
Dalam
waktu yang bersamaan, orang-orang yang dengki terus berupaya
memasang perangkap. Celakanya, pemerintah Mesir termakan agitasi
itu. IT diberi ultimatum: kembali ke Damsyiq, tetap tinggal di Mesir
dengan syarat tidak mendakwahkan ajarannya kepada masyarakat, atau
dipenjara.
Ternyata
pilihan ketiga yang dipilihnya: penjara. Namun murid-muridnya
menghalangi, dan menyarankan agar IT kembali ke Damsyiq. Demi
menjaga hati pengikutnya, pada 18 Syawal 770 IT kembali ke Damsyiq.
Namun sebentar saja, cuma beberapa jam di Damsyiq. Penjara lebih
'dirindukannya'. Meski begitu IT tidak bisa serta merta masuk
penjara sebab rupanya kalangan qadhi dan ulama Mesir berselisih
pendapat tentang penahanan itu. Alasan pemenjaraan tidak jelas.
Melihat pertentangan pendapat itu, IT akhirnya mengambil keputusan
sendiri: masuk penjara.
Betul
kata pepatah, mutiara akan tetap kemilau di manapun tempatnya. Meski
di penjara, IT tetap dinanti-nanti fatwa dan nasihatnya.
Berbondong-bondong orang menjenguknya. Pemandangan yang sungguh
ganjil, sehingga akhirnya IT dibebaskan. Murid-muridnya di Madrasah
Ash-Shalihiyyah dan beberapa majelis kajian dapat kembali mendengar
ceramah-ceramahnya.
Tak
lama kemudian terjadi pergeseran konstalasi politik di Mesir. Sultan
An-Nashir Muhammad bin Qulaun yang mulai simpati kepada IT turun
takhta, diganti Ruknuddin Bibrus Al-Jasynaker. Sementara Syaikh
Nashr Al-Munbajji Al-Murabbi Ar-Ruhi ulama yang berlawanan aqidah
dengan IT menjadi penasihat raja. Lahirlah keputusan-keputusan
politik yang memojokkan ulama yang berseberangan dengan 'ulamanya'
penguasa. IT pun dibuang ke Iskandariyyah (akhir Shafar 709) dengan
dalih menghindarkan Mesir dari disintegrasi.
Di
tempat barunya, IT tetap kebanjiran pengikut. Rumahnya di
Iskandariyyah yang luas, bersih, dan indah terbuka 24 jam untuk
siapa saja. Banyak kalangan pembesar maupun fuqaha yang datang
meminta nasihat spiritual kepadanya. Sultan An-Nashir Muhammad bin
Qulaun yang akhirnya kembali memimpin Mesir dan Syam (akhir 709),
berkenan mengangkat IT sebagai penasihat spiritualnya.
Sampai
akhhir tahun 726, IT berkonsentrasi pada pendidikan, menulis,
ceramah-ceramah, dan mengeluarkan fatwa. Fatwa yang cukup terkenal
adalah larangannya menziarahi kubur, termasuk kubur Rasulullah saw.
IT bersandar pada sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari Muslim,
"Allah melaknati orang-orang Yahudi dan Nashara yang menjadikan
kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid."
Terang
saja banyak kalangan merasa gelisah, sebab Rasulullah saw adalah
manusia suci yang selama ini diagungkan. Banyak ulama yang
menganggap fatwa itu 'tidak sopan' dilihat dari segi kedudukan Nabi
saw. Akhirnya pemerintah turun tangan, mengeluarkan surat perintah
penangkapan atas diri IT (7 Sya'ban 726).
Namun
rupanya pemenjaraan yang ketiga kali itu dimanfaatkan pihak-pihak
tertentu yang selama ini telah membencinya. Murid dan pendukung IT
dianiaya. Beberapa di antaranya dimasukkan penjara, ada juga yang
dinaikkan di atas keledai lalu diarak beramai-ramai dan dimaki-maki.
Bahkan Syamsuddin Muhammad bin Qayyim Al-Jauziyyah yang paling getol
membela IT dipenjara seumur hidup dan meninggal di penjara.
Seperti
sebelumnya, penjara tak menghalangi IT terus berkarya. Tentu ini
mengkhawatirkan pihak penguasa yang merasa terus dirugikan. Tanggal
9 Jumadil Akhir 728, pemerintah merampas semua alat baca dan tulis
di penjara. Hebatnya, IT terus menulis dengan memanfaatkan
kertas-kertas sampah dan arang sebagai alat tulisnya.
Satu
hal yang tak bisa dilawannya, kondisi fisik yang digerogoti usia.
Dia akhirnya jatuh sakit. Berita itu segera tersebar keluar penjara
sehingga beberapa pejabat datang menjenguknya seraya minta maaf atas
pemenjaraan itu. Terhadap mereka, dengan arif ia berkata,
"Sungguh aku telah menghalalkan orang-orang yang memusuhiku
karena mereka tidak tahu bahwa aku dalam kebenaran. Aku juga
memaafkan Sultan An-Nashir yang memenjarakanku. Pendeknya, aku telah
memaafkan semua orang yang memusuhiku, kecuali orang-orang yang
memusuhi Allah dan Rasul-Nya."
Pada
malam 22 Dzulqa'idah 728, ulama ini meninggal dunia. Warga seluruh
negeri Mesir dan Syam gempar. Sewaktu jenazah IT dimandikan, orang
berdesak-desakan ingin melihat dan menghormatinya. Sewaktu
dishalatkan di masjid jami' Al-Amwi, warga semakin banyak. Pasar
kosong. Toko dan warung-warung tutup. Banyak di antara mereka yang
lupa makan dan minum. Kumpulan manusia itu menimbulkan bergemuruh.
Ada yang menangis, meratap, memuji, dan mendoakannya. Orang yang
memikul keranda IT kesulitan bergerak, hanya bisa bergeser sejengkal
demi sejengkal, itupun maju mundur. Sebelum Ashar, jenazah itu
dikebumikan di kubur Ash-Shufiyyah. Di kuburan itu sebelumnya telah
dimakamkan beberapa ulama seperti Ibnu Asakir, Ibnu Shalah, Ibnul
Hujjah, dan Imaduddin bin Katsir.
Di
belahan bumi lain, kaum Muslimin seantero dunia melaksanakan shalat
ghaib. Timur Tengah, Afrika, sampai Yaman dan Cina, semua larut
dalam keharuan atas meninggalnya IT. Meski jasadnya telah tiada,
pemikirannya telah hidup sampai saat ini. Al-Hafizh Ibnul Qayyim
Al-Jauziyah, Ibnu Abdul Hadi, Ibnu Katsir, dan Al-Hafizh Ibnu Rajab
adalah di antara murid-murid yang terus berupaya menghidupkan
semangat perjuangannya. (Shofiyah Ahmalud; dari berbagai
sumber)