|
HAKIKAT
PERJALANAN RUHANI
MENUJU
ALLAH
"Hati
itu terdiri dari empat macam," sabda Rasulullah Saw. "yaitu
hati yang bersih di dalamnya seperti pelita yang benderang; hati yang
tertutup dan terikat pada tutupnya; hati yang terbalik; dan hati yang
berlapis. Hati yang bersih adalah hati milik orang mukmin, pelitanya
adalah cahaya yang ada di dalamnya. Hati yang tertutup adalah hati orang
kafir. Hati yang terbalik adalah hati orang munafiq, ia tahu kemudian
ingkar. Sedangkan hati yang berlapis adalah hati yang di dalamnya
terdapat iman dan kemunafikan. Iman yang terdapat dalam hati tersebut
bagaikan sayur yang memperoleh siraman air yang segar, sedangkan
kemunafikan yang di dalamnya bagai bisul yang penuh dengan nanah dan
darah. Yang mana di antara dua yang dapat mengalahkan yang lain, maka
itulah pemenangnya". (munurut Ibnu Katsir sanad Hadits
ini hasan)
Hadits
ini menerangkan tentang macam-macam hati manusia dalam kaitannya dengan
iman. Dan secara gamblang disinyalir bahwa hati yang kafir terikat pada
tutupnya, dan hati yang terbalik tidak berfungsi dan tidak bermanfaat
apa-apa dalam masalah iman. Sedangkan hati yang di dalamnya terdapat
pelita yang benderang, inilah hati yang besar dan berdaya guna. Hati
yang biasa dinamakan dengan hati yang selamat (qalbun salim) adalah
puncak perjalanan para penempuh jalan menuju Allah dan itu pulalah objek
dari kerja perbaikan hati.
Hati
yang menjadi tempat pengobatan adalah hati yang masih memiliki cahaya
fitrah atau hati yang di dalamnya masih tersisa cahaya iman. Hati yang
demikian menuntut dan mewajibkan pemiliknya menempuh perjalanan menuju
kebaikan hati, sehingga hati itu sampai pada peringkat hati mukmin yang
arif (kenal akan Allah).
Maka
tidak dapat diragukan lagi bahwa kewajiban utama bagi para pemilik hati
yang kafir dan munafik adalah beriman dan berislam. Ini bukanlah
gambaran kami, karena pada dasarnya orang-orang kafir dan munafik itu
secara sengaja tidak mendengarkan dan tidak memberikan jawaban terhadap
seruan dakwah :
Sesungguhnya
kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak
pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila
mereka telah berpaling membelakang. Dan kamu sekali-kali tidak dapat
memimpin (memalingkan) orang-orang buta dari kesesatan mereka.
Kamu tidak dapat menjadikan seorangpun mendengar, kecuali orang-orang
yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri. (QS.
An-Naml : 80~81)
Jadi,
kewajiban pertama bagi mereka yang sakit hatinya adalah memperbaikinya
secara kontinu sampai mencapai hal (keadaan ruhaniah) tertentu,
yaitu dengan cara memberinya bekal harian yang lazim dan santapan yang
dibutuhkan. Kebutuhan akan bekal dan santapan ini sangat beragam
kadarnya antara satu orang dan orang lainnya.
Kemudian,
memperhatikan kekurangan-kekurangan diri. Diawali dengan satu kelemahan
yang untuk selanjutnya mengarah pada kelemahan-kelemahan lainnya--dengan
cara melakukan kerja pembaruan iman sampai menjelang kematian.
Orang
yang selalu melalaikan salah satu kewajiban dan terus melakukan salah
satu kemungkaran, tidak akan pernah mampu memelihara keselamatan hatinya.
Perhatikanlah sabda Rasulullah saw. : Sesungguhnya terdapat kesalahan
atas kalbuku, sehingga aku minta ampun seratus kali dalam sehari
(HR. Muslim dan Abu Dawud). Anda saksikan Rasulullah memohon ampun
sedemikian rupa, padahal kalbu beliau sudah berada pada ruhaniah
tertentu.
Beliau
juga bersabda : sesungguhnya iman akan kusut dalam perut (dada) anak
Adam (manusia) seperti kusut (lusuh)-nya pakaian, maka mohonlah kalian
kepada Allah agar Dia memperbarui iman dalam kalbu kalian (HR.
Thabrani dalam kitab Al-Kabir, hadits ini hasan).
"Perbarui
iman kalian !" sabda Rasulullah. Kemudian, seseorang bertanya
kepada beliau, "bagaimana cara memperbarui iman kami ?" "Banyak-banyaklah
membaca laa ilaaha illallah," jawab beliau (HR. Ahmad, sanad
hadits ini hasan).
tunggu
kelanjutannya !!!
kembali
ke: home |